Tak Ada Nasi Lain

Tak Ada Nasi Lain

Suparto Brata / May 28, 2020

Tak Ada Nasi Lain Saptono lahir dan tumbuh bersama kesengsaraan bangsa pada masa penjajahan bala tentara Dai Nippon Ia ikut kelaparan saat kota Solo menjadi ajang pergulatan paham komunis yang disusul dengan konflik k

  • Title: Tak Ada Nasi Lain
  • Author: Suparto Brata
  • ISBN: 9789797097165
  • Page: 362
  • Format: Paperback
  • Saptono lahir dan tumbuh bersama kesengsaraan bangsa pada masa penjajahan bala tentara Dai Nippon Ia ikut kelaparan saat kota Solo menjadi ajang pergulatan paham komunis, yang disusul dengan konflik kaum pejuang kemerdekaan dengan pasukan Belanda NICA Dalam ketaksempurnaannya, Saptono punya tanggung jawab sebagai pembimbing bangsa dan keluarga Sebagai penyandang cacat lSaptono lahir dan tumbuh bersama kesengsaraan bangsa pada masa penjajahan bala tentara Dai Nippon Ia ikut kelaparan saat kota Solo menjadi ajang pergulatan paham komunis, yang disusul dengan konflik kaum pejuang kemerdekaan dengan pasukan Belanda NICA Dalam ketaksempurnaannya, Saptono punya tanggung jawab sebagai pembimbing bangsa dan keluarga Sebagai penyandang cacat lahir batin, Saptono tak dapat bersyukur atas kelahirannya di dunia, padahal ia dilahirkan sebagai bayi bangsawan, tapi hidup tanpa wahana feodal Ia lahir di tempat yang salah, di zaman yang salah, dan diasuh indung kandung yang salah pula Tempatnya di Surakarta Hadiningrat, di akhir zaman feodal, zaman Perang Asia Timur Raya, sekaligus zaman revolusi kemerdekaan Indonesia.Sebuah novel sejarah yang merekonstruksi kehidupan sosial masa lalu sebagai bahan pembelajaran demi terciptanya masa depan yang lebih baik.Suparto Brata, lahir pada 27 Februari 1932 di Centrale Burgere Ziekenhuis di pusat Kota Surabaya sekarang jadi Mal Surabaya Plaza , Jawa Timur Menulis dan mengarang sejak tahun 1952 di banyak surat kabar dan majalah antara lain, Siasat, Mimbar Indonesia, Surabaya Post, Jawa Pos, dan Kompas, menerima The S.E.A Write Awards 2007 dari Kerajaan Thailand Pernah dipilih sebagai blogger tertua Indonesia oleh TV One Jakarta 2009 Buku yang pernah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dan merupakan trilogi, Gadis Tangsi, Mahligai di Ufuk Timur, dan Kerajaan Raminem.

    • [PDF] Download Ù Tak Ada Nasi Lain | by Ù Suparto Brata
      362 Suparto Brata
    • thumbnail Title: [PDF] Download Ù Tak Ada Nasi Lain | by Ù Suparto Brata
      Posted by:Suparto Brata
      Published :2020-02-21T15:54:42+00:00

    About "Suparto Brata"

      • Suparto Brata

        Suparto Brata lahir di Surabaya, Jawa Timur, 27 Februari 1932 Ia anak nomor delapan dari pasangan Raden Suratman Bratatanaya dengan Raden Ayu Jembawati Waktu Suparto lahir, ayahnya menganggur, sementara ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga Masa kecil ia habiskan dengan mengikuti ibunya yang berpindah pindah tempat kerja dari satu kota ke kota lain.Setelah ibunya tak lagi menjadi pembantu rumah tangga dalam keluarga salah seorang kakaknya di Probolinggo, pada tahun 1947 Suparto kembali ke Surabaya, tempat ia meneruskan sekolah di SMPN Jalan Kepanjen 1 Namun, karena terkendala berbagai hal, meski nilai rapor untuk mata pelajaran IPA nya bagus, ia tidak bisa meneruskan sekolah ke tingkat lebih tinggi.Selulus SMP, Suparto langsung bekerja Pertama di Rumah Sakit Kelamin 1951 dan kemudian di Kantor Pos, Telepon dan Telegrap di Surabaya, sambil ia melanjutkan sekolah di SMAK St Louis Setelah tamat SMA pada tahun 1957, ia meneruskan lagi bekerja di Kantor Telegrap 1952 1960 dan kemudian kembali berpindah pindah tempat kerja dan profesi, mulai di PDN Jaya Bhakti Cabang Surabaya 1960 1967 , menjadi pedagang kapuk pengarang wartawan freelance 1967 1971 , dan menjadi pegawai Pemkot Surabaya sampai pensiun pada 1988.Suparto menulis sejak tahun 1952 Karangannya dimuat di berbagai koran dan majalah, termasuk Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Tanahair, Surabaya Post, Jawa Pos, Kompas, dan Indonesia Raya Sejak 1958 juga menulis dalam bahasa Jawa, yang hasilnya diter bitkan di koran koran dan majalah seperti Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Mekar Sari, dan Damar Jati.Di antara puluhan karya sastra Suparto Brata yang sudah di bukukan antara lain yng berjudul Surabaya Tumpah Darahku, Saksi Mata, Gadis Tangsi, Saputangan Gambar Naga, Mencari Sarang Angin, Kremil, Republik Jungkir Balik, Donyan Wong Culika, Lelakon Si lan Man, Ser Randha Cocak, Suparto Brata s Omnibus, dan Paw stri Tanpa Idh ntiti.Nama Suparto Brata tercatat dalam buku Five Thousand Perso nalities of the World edisi VI, 1988 , terbitan The American Biograp hical Institute.Sumber buku.kompas Penulis Supart


    129 Comments

    1. tema buku ini kuat: ingin menggambarkan posisi orang yang terpinggirkan oleh jaman. suatu proses peminggiran yang dialami sepanjang hidupnya, melewati berbagai perubahan era politik, atau sering diungkapkan orang dengan "berbagai jaman".jadilah novel ini mengikuti kisah hidup saptono, sejak kecil hingga dewasa mandiri dan menemukan jatidirinya. setting ditetapkan di surakarta, tepatnya di gajahan, sebuah kalurahan yang sampai sekarang masih meninggalkan rumah besar yang agaknya dipakai untuk are [...]


    2. I've never been feeling so sad after finishing a historical fiction, but here I am, crying over a fictional character.It captured so well. Bagaimana seseorang yang lahir di jaman feodal, lalu tumbuh di masa penjajahan Jepang, dan dewasa bersama kemerdekaan yang masih muda umurnya. "Tak ada nasi lain" hanya metamorfrasa dari ketiadaan pilihan dalam hidup, setidaknya dalam pandang Saptono, yang meski berdarah ningrat namun hidup melarat


    3. Cerita hidupnya mungkin biasa saja, tapi yang membuat novel ini menarik adalah setingnya. Kota Solo tahun 1940an-1960an. Deskripsi soal kondisi Solo ketika Jepang mulai masuk, pengumuman kemerdekaan, agresi militer, gerilya. Semuanya dari sudut pandang rakyat biasa, bukan pahlawan sebagaimana buku-buku sejarah. Menarik bagi yang suka cerita tempo dulu.


    4. Penulisnya asli wong Suroboyo.Jika Tuhan kau anggap hilang, tidak demikian dengan berkatnya.Tak ada nasi lain adalah representatif keadaan rakyat Indonesia antara tahun 40-an hingga pasca kemerdekaan tahun 70-an.Nasi sumber harapan yang menumbuhkan ketabahan. Semenjak lumpuhnya sistem kerajaan, berangsur angsur kekuasaan bangsa ini melemah, tunduk oleh perintah siapa pun yang menguasai. Ketundukan yang dibarengi dengan janji dan gempuran sepatu lars serta bedil canggih. Ketundukan yang harus dig [...]


    5. Lebih lengkapnya tentang buku ini bisa disimak di link pitoyo/pitoyoamrih/indda momen itu saya juga hadir, dan ikut mengantre tanda tangan pak Brata. Beliau saat ini sudah wafat, tepatnya 11 September 2015 lalu.Sebuah buku sejarah yang amat apik, novel sejarah yang sangat menyentuh. Di tahun 2016 ini saya membaca kembali dan reviewnya inshaAllah akan saya posting di blog saya: arabicmirantikejer




    Leave a Reply